081235077224 Tas Berkat Anyam Pengrajin Tas Belanja, Pengrajin Tas Berkat, Pengrajin
Tas Butik, Pengrajin Tas Daur Ulang, Pengrajin Tas Etnik, Pengrajin Tas
Hajatan, Pengrajin Tas Hantaran, Pengrajin Tas Hotel, Pengrajin Tas Jinjing,
Pengrajin Tas Laundry, Pengrajin Tas Pasar, Pengrajin Tas Plastik, Pengrajin
Tas Ramah Lingkungan, Pengrajin Tas Selamatan, Pengrajin Tas Sembako, Pengrajin
Tas Souvenir, Pengrajin Tas Syukuran, Pengrajin Tas Tahlilan, Pengrajin Tas
Tasyakuran, Pengrajin Tas Tenteng
Ada usul agar Polipropilen digabungkan ke artikel ini
Artikel atau sebagian dari artikel ini mungkin diterjemahkan
dari Polypropylene di en.wikipedia.org. Isinya masih belum akurat, karena
bagian yang diterjemahkan masih perlu diperhalus dan disempurnakan. Jika Anda
menguasai bahasa aslinya, harap pertimbangkan untuk menelusuri referensinya dan
menyempurnakan terjemahan ini. Anda juga dapat ikut bergotong royong pada
ProyekWiki Perbaikan Terjemahan.
Tutup dari propilena sebuah kotak permen Tic Tac, dengan
sebuah living hinge serta kode identifikasi resin di bawah sayapnya
Polipropilena atau polipropena (PP) adalah sebuah polimer
termo-plastik yang dibuat oleh industri kimia dan digunakan dalam berbagai
aplikasi, diantaranya pengemasan, tekstil (contohnya tali, pakaian dalam
termal, dan karpet), alat tulis, berbagai tipe wadah terpakaikan ulang serta
bagian plastik, perlengkapan labolatorium, pengeras suara, komponen otomotif,
dan uang kertas polimer. Polimer adisi yang terbuat dari propilena monomer,
permukaannya tidak rata serta memiliki sifat resistan yang tidak biasa terhadap
kebanyakan pelarut kimia, basa dan asam. Polipropena biasanya didaur-ulang, dan
simbol daur ulangnya adalah nomor "5": nomor 5 yang dkelilingi sebuah
simbol daur ulang, dengan huruf "P P" di bawah.
Pengolahan lelehnya polipropilena bisa dicapai melalui
ekstrusi dan pencetakan. Metode ekstrusi (peleleran) yang umum menyertakan
produksi serat pintal ikat (spun bond) dan tiup (hembus) leleh untuk membentuk
gulungan yang panjang untuk nantinya diubah menjadi berbagai macam produk yang
berguna seperti masker muka, penyaring, popok dan lap.
Teknik pembentukan yang paling umum adalah pencetakan
suntik, yang digunakan untuk berbagai bagian seperti cangkir, alat pemotong,
botol kecil, topi, wadah, perabotan, dan suku cadang otomotif seperti baterai.
Teknik pencetakan tiup dan injection-stretch blow molding juga digunakan, yang
melibatkan ekstrusi dan pencetakan.
Ada banyak penerapan penggunaan akhir untuk PP karena dalam
proses pembuatannya bisa di-tailor grade dengan aditif serta sifat molekul yang
spesifik. Sebagai misal, berbagai aditif antistatik bisa ditambahkan untuk
memperkuat resistensi permukaan PP terhadap debu dan pasir. Kebanyakan teknik
penyelesaikan fisik, seperti pemesinan, bisa pula digunakan pada PP. Perawatan
permukaan bisa diterapkan ke berbagai bagian PP untuk meningkatkan adhesi
(rekatan) cat dan tinta cetak.
Degradasi
Polipropilena dapat mengalami degradasi rantai saat terkena
radiasi ultraungu dari sinar matahari. Jadi untuk penggunaan propilena di luar
ruangan, bahan aditif yang menyerap ultraungu harus digunakan. Jelaga (celak)
juga menyediakan perlindungan dari serangan UV. Polimer bisa dioksidasi pada
suhu yang tinggi, merupakan permasalahan yang umum dalam operasi pencetakan.
Antioksidan normalnya ditambahkan untuk mencegah degradasi atau oksidasi
polimer.
Biosida amonium kuartener serta olaamida yang bocor dari
plastik polipropilena ditemukan memengaruhi hasil eksperimen.[1] Karena polipropilena
digunakan sebagai wadah penyimpan makanan seperti yoghurt, permasalahan ini
sedang dipelajari.[2] Tas Berkat Anyam
Sifat-sifat kimia dan fisik
Kebanyakan polipropilena komersial merupakan isotaktik dan
memiliki kristalinitas tingkat menengah di antara polietilena berdensitas
rendah dengan polietilena berdensitas tinggi; modulus Youngnya juga menengah.
Melalui penggabungan partikel karet, PP bisa dibuat menjadi liat serta
fleksibel, bahkan di suhu yang rendah. Hal ini membolehkan polipropilena
digunakan sebagai pengganti berbagai plastik teknik, seperti ABS. Polipropilena
memiliki permukaan yang tak rata, sering kali lebih kaku daripada beberapa
plastik yang lain, lumayan ekonomis, dan bisa dibuat translusen (bening) saat
tak berwarna tetapi tidak setransparan polistirena, akrilik maupun plastik
tertentu lainnya. Bisa bula dibuat buram dan/atau berwarna-warni melalui
penggunaan pigmen, Polipropilena memiliki resistensi yang sangat bagus terhadap
kelelahan (bahan).
Polipropilena memiliki titik lebur ~160 °C (320 °F), sebagaimana
yang ditentukan Differential Scanning Calorimetry (DSC).
MFR (Melt Flow Rate) maupun MFI (Melt Flow Index) merupakan
suatu indikasi berat molekulnya PP serta menentukan seberapa mudahnya bahan
mentah yang meleleh akan mengalir saat pengolahan berlangsung. MFR PP yang
lebih tinggi akan mengisi cetakan plastik dengan lebih mudah selama
berlangsungnya proses produksi pencetakan suntik maupun tiup. Tapi ketika arus
leleh (melt flow) meningkat, maka beberapa sifat fisik, seperti kuat dampak,
akan menurun.
Ada tiga tipe umumnya PP: homopolimer, random copolymer dan
impact copolymer atau kopolimer blok. Comonomer yang digunakan adalah etena.
Karet etena-propilena yang ditambahkan ke homopolimer PP meningkatkan kuat
dampak suhu rendahnya. Monomer etena berpolimer acak yang ditambahkan ke
homopolimer PP menurunkan kristalinitas polimer dan membuat polimer lebih
tembus pandang.
Sintesis
Ruas-ruas pendeknya polipropilena, menunjukkan berbagai
contoh isotaktik (atas) dan taktisitas sindiotaktik (atas).
Konsep yang penting untuk memahami hubungan antara struktur
polipropilena dengan sifat-sifatnya adalah taktisitas. Orientasi relatifnya
setiap gugus metil (CH3 dalam gambar sebelah kiri) yang dibandingkan dengan
gugus metil di berbagai monomer yang berdekatan punya efek yang kuat pada
kemampuan polimer yang sudah jadi untuk membentuk kristal, sebab tiap gugus
metil memakan tempat serta membatasi pelenturan/pelentukan tulang punggung
(backbone bending).
Seperti kebanyakan polimer vinil yang lain, polipropilena
yang berguna tak bisa dihasilkan oleh polimerisasi radikal dikarenakan lebih
tingginya reaktivitas hidrogen alilik (yang mengarah ke dimerisasi) selama
polimerisasi. Bahan yang dihasilkan dari proses itu akan memiliki gugus metil
yang tersusun acak, yang disebut PP ataktik. Kurangnya benah jangkau panjang
mencegah apapun kristalinitas di dalam bahan seperti itu, menghasilkan sebuah
bahan amorf berkekuatan sangat kecil.
Katalis Ziegler-Natta mampu membatasi berbagai monomer
mendatang ke sebuah orientasi yang spesifik, hanya menambahkan monomer-monomer
itu ke rantai polimer jika mereka menghadap ke arah yang benar. Polipropilena
yang paling tersedia secara komersial dibuat dengan katalis Ziegler-Natta, yang
menghasilkan polipropilena yang pada umumnya isotaktik (lantai sebelah atas
dalam gambar di atas). Dengan gugus metil konsisten di satu sisi, molekul
seperti itu cenderung melingkar ke dalam bentuk heliks; heliks-heliks ini lalu
berjajar bersebelahan untuk membentuk kristal yang memberikan sifat-sifat yang
dinginkan dari sebuah polipropilena komersial.
Sebuah model bola-dan-rantingnya polipropilena sindiotaktik.
Katalis Kaminsky yang terekayasa dengan lebih presisi
menawarkan tingkat kendali yang lebih besar. Didasarkan pada molekul
metalosena, katalis ini menggunakan gugus organik untuk mengendalikan monomer
yang ditambahkan, sehingga pilihan katalis yang lebih tepat mampu menghasilkan
polipropilena yang isotaktik, sindiotaktik, atau ataktik, atau bahkan kombinasi
dari ketiga sifat tersebut. Selain kontrol kualitatif tadi, katalis Kaminsky
membolehkan kontrol kuantitatif yang lebih baik, dengan jauh lebih baiknya
rasio taktisitas yang diinginkan daripada teknik Ziegler-Natta sebelumnya.
Katalis ini menghasilkan pula distribusi berat molekul yang lebih sempit daripada
katalis Ziegler-Natta yang tradisional, yang mampu meningkatkan berbagai sifat
lebih jauh lagi.Tas Berkat Anyam
.jpg)
Untuk menghasilkan polipropilena yang elastis, katalis yang
menghasilkan polipropilena isotaktik bisa dibuat, tetapi dengan gugus organik
yang memengaruhi taktisitas yang ditahan di tempat oleh sebuah ikatan yang
relatif lemah. Setelah katalis menghasilkan polimer pendek yang mampu
berkristalisasi, cahaya dengan frekuensi yang tepat digunakan untuk memecahkan
ikatan yang lemah ini, serta menghilangkan selektivitas katalis sehingga
panjang rantai yang tersisa adalah ataktik. Hasilnya adalah bahan yang pada
umumnya amorf dengan kristal-kristal kecil tersisip di dalamnya.Karena salah
satu ujung dari tiap rantai berada di dalam sebuah kristal sedang sebagian besar
panjangnya berada dalam bentuk amorf dan lunak, maka wilayah kristalin punya
kegunaan yang sama dengan vulkanisasi.
Mekanisme katalis metalosena
Reaksi kebanyakan katalis metalosena membutuhkan sebuah
ko-katalis untuk pengaktifan. Salah satu ko-katalis yang paling umum digunakan
untuk tujuan ini adalah Methylaluminoxane (MAO).[3] Ko-katalis yang lain adalah
Al(C2H5)3.[4] Ada sejumlah katalis metalosena yang bisa digunakan untuk
polimerisasi propilena. (Sejumlah katalis metalosena dipakai untuk proses industri,
sedangkan yang lain tidak, dikarenakan harganya yang tinggi.). Salah satunya
yang paling sederhana adalah Cp2MCl2 (M = Zr, Hf). Katalis yang berbeda bisa
menghasilkan polimer dengan berat molekul serta sifat yang berbeda. Katalis
metalosena sedang diteliti secara aktif.
Katalis metalosena bereaksi dulu dengan ko-katalis. Jika MAO
adalah ko-katalisnya, langkah pertama adalah menggantikan satu atom Cl di
katalis dengan satu gugus metil dari MAO. Gugus metil di MAO digantikan oleh Cl
dari katalis. MAO lalu menghilangkan Cl lainnya dari katalis. Ini membuat
katalis bermuatan positif dan rentan terhadap serangan dari propilena.[5]
Begitu katalis diaktifkan, ikatan ganda di propena
berkoordinasi dengan logamnya katalis. Gugus metil di katalis lalu bermigrasi
ke propena, dan ikatan ganda terputus. Hal ini memulai polimerisasi. Begitu
metil bermigrasi maka katalis bermuatan positif terbentuk kembali dan propena
yang lain berkoordinasi dengan logam. Propena kedua berkoordinasi dan migrasi
berlanjut serta sebuah rantai polimer tumbuh dari katalis metalosena.[6][7]
Sejarah
Polipropilena pertama kali dipolimerisasikan oleh Dr. Karl
Rehn di Hoechst AG, Jerman, pada 1951, yang tidak menyadari pentingnya penemuan
itu. Ditemukan kembali pada 11 Maret 1954 oleh Giulio Natta, Polipropilena pada
awalnya diyakini lebih murah daripada polietilena.
Penggunaan praktis
Karena polipropilena kebal dari lelah, kebanyakan living
hinge (engsel fleksibel tipis yang terbuat dari plastik yang menghubungkan dua
bagian dari plastik yang kaku), seperti yang ada di botol dengan tutup flip
top, dibuat dari bahan ini.
Lembar propilena yang sangat tipis dipakai sebagai
dielektrik dalam pulsa berdaya tinggi tertentu serta kondensator frekuensi
radio yang kehilangan frekuensinya rendah.Tas Berkat Anyam
.jpg)
Kebanyakan barang dari plastik untuk keperluan medis atau
labolatorium bisa dibuat dari polipropilena karena mampu menahan panas di dalam
autoklaf. Sifat tahan panas ini menyebabkannya digunakan sebagai bahan untuk
membuat ketel (ceret) tingkat-konsumen. Wadah penyimpan makan yang terbuat
darinya takkan meleleh di dalam mesin cuci piring dan selama proses pengisian
panas industri berlangsung. Untuk alasan inilah, sebagian besar tong plastik
untuk produk susu perahan terbuat dari propilena yang ditutupi dengan foil
aluminium (keduanya merupakan bahan tahan-panas). Seusai produk didinginkan,
tabung sering diberi tutup yang terbuat dari bahan yang kurang tahan panas,
seperti polietilena berdensitas rendah (LDPE) atau polistirena. Wadah seperti
ini merupakan contoh yang bagus mengenai perbedaan modulus, karena tampak jelas
beda kekenyalan LDPE (lebih lunak, lebih mudah dilenturkan) dengan PP yang
tebalnya sama. Jadi wadah penyimpan makanan dari polipropilena sering memiliki
tutup yang terbuat dari LDPE yang lebih fleksible agar bisa tertutup
rapat-rapat. Polipropilena juga bisa dibuat menjadi botol sekali pakai untuk
menyimpat produk konsumen berbentuk cairan atau tepung, meksi HDPE dan
polietilena tereftalatlah yang umum dipakai untuk membuat botol semacam itu.
Ember plastik, baterai mobil, kontainer penyejuk, piring, dan kendi sering
terbuat dari polipropilena atau HDPE, keduanya memiliki penampilan, rasa, serta
sifat yang hampir sama pada suhu ambien.
Polipropilena merupakan sebuah polimer utama dalam barang-barang
tak tertenun. Sekitar 50% digunakan dalam popok atau berbagai produk sanitasi
yang dipakai untuk menyerap air (hidrofil), bukan yang secara alami menolak air
(hidrofobik). Penggunaan tak tertenun lainnya yang menarik adalah saringan
udara, gas, dan cair dimana serat bisa dibentuk menjadi lembaran atau jaring
yang bisa dilipat untuk membentuk kartrij atau lapisan yang menyaring dalam
batas-batas 0,5 sampai 30 mikron. Aplikasi ini bisa ditemukan di dalam rumah
sebagai saringan air atau saringan tipe pengondisian udara. Wilayah permukaan
tinggi serta polipropilena hidrofobik alami yang tak tertenun merupakan
penyerap tumpahan minyak yang ideal dengan perintang apung yang biasanya
diletakkan di dekat tumpahan minyak di sungai. Tas Berkat Anyam
.jpg)
Polipropena juga umum digunakan sebagai polipropilena
berorientasi dwi sumbu atau Biaxially Oriented polypropylene (BOPP). Lembaran
BOPP ini digunakan untuk membuat berbagai macam bahan seperti clear bag (tas
yang transparan). Saat polipropilena berorientasi dwisumbu, ia menjadi sejernih
kristal dan berfungsi sebagai bahan pengemasan untuk berbagai produk artistik
serta eceran.
Polipropilena yang berwarna-warni banyak dipakai dalam
pembuatan permadani dan tatakan untuk digunakan di rumah.[9]
Militer AS pernah menggunakan polipropilena atau 'polypro'
untuk membuat lapisan dasar cuaca dingin seperti kaos lengan panjang atau
celana dalam yang panjang. (Saat ini, poliester menggantikan polipropilena
dalam berbagai aplikasi di militer AS.[10]) Kaos dari polipropilena tidak mudah
terbakar, tetapi bisa meleleh yang berakibat pada bekas terbakar pada bagian
baju yang terkena apapun jenis ledakan atau api.
Tali yang terbuat dari polipropilena cukup ringan untuk
mengapung di air.
Polipropilena digunakan pula sebagai pengganti polivinil
klorida (PVC) sebagai insulasi untuk kabel listrik LSZH (Low Smoke Zero
Halogen) dalam lingkungan ventilasi-rendah, terutama sekali terowongan. Ini
karena PP mengeluarkan sedikit asap serta halogen yang tidak beracun, yang akan
menghasilkan asam pada suhu tinggi.
Polipropilena juga dipakai dalam membran atap sebagai
lapisan paling atas kebal airnya sistem kayu lapis tunggal yang bertentangan
dengan sistem bit termodifikasi.
Penggunaan medis dari PP yang paling umum adalah sebagai
bahan pembuat benang jahit untuk operasi yang diberi nama Prolene, yang dibuat
oleh Ethicon Inc.
Polipropilena sangat umum digunakan untuk pencetakan plastik
dimana ia disuntikkan ke dalam cetakan dalam keadaan meleleh, membentuk
berbagai bentuk yang kompleks pada volume yang tinggi dan biaya yang relatif
rendah. Hasilnya bisa berupa tutup botol, botol, dll.
Polipropilena yang diproduksi dalam bentuk lembaran telah
digunakan secara meluas untuk produksi stationary folder, pengemasan, dan kotak
penyimpanan. Warna yang beragam, durabilitas, serta sifat resistensi PP
terhadap debu membuatnya ideal sebagai sampul pelindung untuk kertas serta
berbagai bahan yang lain. Karakteristik tadi juga membuat PP digunakan dalam
stiker kubus Rubik.
Polipropilena telah digunakan dalam operasi memperbaiki
hernia untuk melindungi tubuh dari hernia baru di lokasi yang sama. Tambalan
kecil dari PP yang diletakkan di lokasi hernia, di bawah kulit, tidak
menyebabkan rasa saki dan jarang ditolak oleh tubuh.
Expanded Polypropylene (EPP) merupakan bentuk busanya
polipropilena. Karena kekakuannya yang rendah, EPP tetap mempertahankan
bentuknya sesudah mengalami benturan. EPP digunakan secara luas dalam miniatur
pesawat dan kendaraan yang dikontrol radio lainnya. Dikarenakan kemampuannya
menyerap benturan, EPP menjadi bahan yang ideal untuk pesawat RC bagi para
pemula dan amatir. Tas Berkat Anyam